TEORI PERILAKU PRODUSEN
A. Fungsi Produksi
1. Menurut Dr. Wilson Bangun, S.E., M.SI.
Produsen adalah pengguna faktor-faktor produksi dan sebagai pengahsil barang-barang kebutuhan konsumen. Fungsi produksi menjelaskan hubungan antara faktor-faktor produksi dengan hasil produksi. Faktor produksi dikenal dengan istilah input, sedangkan hasil produksi dikenal dengan istilah output.
Q = f(K,L,N, dan T)
Q adalah output, sedangkan K, L, R, dan T adalah input. K = jumlah modal, L = jumlah tenaga kerja, N = sumber daya alam, dan T = teknologi. Besarnya jumlah output tergantung dengan penggunaan input-input tersebut.
2. Menurut Ari Sudarman
Fungsi produksi adalah tabel atau persamaan matematis yang menggambarkan jumlah output maksimum yang dihasilkan dari satu faktor produksi tertentu dan pada tingkat teknologi tertentu. Faktor Produksi dibagi menjadi dua, yaitu :
o    Faktor produksi tetap: faktor produksi yang jumlahnya tidak dapat diubah secara cepat, bila keadaan pasar menghendaki perubahan output. Contoh: ukuran gedung, mesin, tenaga pimpinan perusahaan
o    Faktor produksi variable: faktor produksi yang jumlahnya dapat diubah dalam waktu yang singkat untuk mengubah jumlah output. Contoh: tenaga kerja, bahan mentah
3. Menurut William A. McEachern
Fungsi produksi adalah hubungan antara sumber daya yang digunakan dan produk total.
B. Teori Produksi dengan Satu Input
1. Menurut Dr. Wilson Bangun, S.E., M.SI.
Fungsi produksi dengan satu input menjelaskan hubungan antara jumlah output dengan satu input, misal input tersebut adalah tenaga kerja , dan input-input lain dianggap tetap. Maka hubungann kedua variabel tersebut adalah: Q = f(L). Dalam teori produksi ada beberapa konsep yang perlu dketahui antara lain, produk total  (TP), prroduk rata-rata (AP), dan produk marjinal (MP)
Produk Total
Produk total adalah jumlah produk yang dihasilkan dengan menggunakan input (misal: tenaga kerja). Dan ada hubungan antara dua variabel tersebut (TP dan L), hubungan kedua variabel tersebut merupakan hokum hasil lebih yang semakin berkurang (The Law Of Deminishing Return) yang berbunyi: apabila jumlah tenaga kerja ditambah terus menrus sebanyak  1 unit, pada mulanya produksi total akan menugnkat, kemudian setelah mencapai pada titik tertentu, tambahan jumlah tenaga kerja akan mengurangi jumlah produksinya dan akhirnya senakin menurun berdasarkan hokum tersebut, hubungan dengan output dengan jumlah tenaga kerja dibagi menajdi tiga tahap, antara lain: tahap 1 (produk total mreningkat pesat), tahap 2 (produk total meningkat lambat), dan tahap ketiga (produk total menurun).


Produk Rata-rata
Produk arata-rata (AP) adalah rata-rata produk yang dihasilkan setiap input  (tenaga kerja). Dengan demikian produk rata-rata merupakan hasil bagi antara total produk (TP) dengan jumlah tenaga kerja (L), sehingga dirumuskan: AP = TP / L. kurva produk rata-rata akan meningkat jumlahnya akibat tambahan jumlah tenaga kerja hingga titik maksimum (tahap kedua pada kurva produk total). Kurva produk rata-rataa akan menurun ketika pertambahan produk tota semakin kecil (tahap kedua) akibat taambahan jumlah tenaga kerja.
Produk Marjinal
Prroduk marjinal (MP) adalah tambahan jumlah produk yang diakibatkan oleh tambahan satu unit input (misal tenaga kerja) yang digunakan. Dengan demikian produk marjinal merupakan perbandingan antara perubahan produk total dengan perubahan jumlah tenaga kerja yang digunakan, sehingga dirumuskan sebagai berikut: MP = DTP / DL. Kurva produk marjinal menurun akibat tambahan jumlah tenaga kerja dan memotong kurva produk rata-rata pada titik maksimum (AP=MP). Produk marjinal menjadi negatif apabila tambahan tenaga kerja terus dilakukan.
2. Menurut William A. McEachern
Hasil Marginal yang Meningkat (Increasing marginal return) yaitu kenaikan produk marginal yang dialami saat terjadi penambahan suatu sumber daya tertentu, sumber daya lain konstan. Tanpa adanya pekerja maka produk total adalah nol. Apabila pekerja yang dipekerjakan hanya satu, berarti ia harus mengerjakan semua pekerjaan seperti mengemudi, mengemas, dan mengangkut. Satu pekerja dapat mengangkut 2 ton mebel perhari. Jika menggunakan dua tenaga kerja, produksi total akan berlipat ganda yaitu 5 ton perhari. Produk marginalnya adalah 3 ton. Penambahan tenaga kerja ketiga memungkinkan pembagian kerja lebih baik lagi, sehingga lebih meningkatkan output. Produk total dari penambahan tenaga kerja ketiga 9 ton, yaitu 4 ton lebih banyak.
Hasil Marginal yang Menurun (Decreasing marginal return). Penambahan pekerja keempat mengakibatkan penambahan produk total, tapi penambahannya tidak sebanyak pekerja yang ketiga. Penambahan pekerja lagi akan menambah produk total tappi yang semakin menurun, sehingga produk marginal menurun setelah pekerja ketiga. Dengan empat pekerja hukum hasil marginal yang menurun (The Law of Diminishing Marginal Return) mulai bekerja. Dimana produk marginal menurun ketika jumlah input meningkat. Output akan mengalami penurunan bahkan bisa menjadi negatif. Hukum hasil marginal yang menrurn adalah sifat produksi paling penting dalam jangka pendek 
C. Teori Produksi dengan Dua Input
Misalnya input yang digunakan adalah tenaga kerja (L) dan modal (K). Dalam hal ini, dimisalkan bahwa input L dan K dapat berubah, sedangkan input yang lain tetap. Sehingga fungsinya: Q = L,K). Dalam kegiatan produksi, kedua input tersebut dapat dipertukarkan penggunaannya, misalnya L dapat diganti dengan K, demikian sebaliknya K dapat diganti dengan L.
Kurva Isokuan
Kurva isokuan adalah suatu garis yang menjelaskan berbagai kombinasi penggunaan dua input variabel untuk menghasilkan suatu tingkat output tertentu. Misal: pada (tabel sebelumnya) gabungan A untuk menghasilkan 100 unit produk menggunakan 2 tenaga kerja dan 10 modal, sedangkan gabungan B menggunakan 3 tenaga kerja dan 7 modal dan seterusnya, maka dapat dibentuk menjadi sebuah kurva isokuan:                       
D. Marginal Rate of Technical Substitution
Pergerakan kurva isokuan dari titik A ke titik B, dari titik B ke titik C, dan seterusnya menunukkan bahwa terjadi pertukaran antara input tenaga kerja dengan modal untuk menghasilkan output yang sama, inilah yang disebut sebagai MRTS, dengan rumus sebagai berikut: MRTSLK = -K/L. MRTSLK merupakan perbandingan antara MPL dengan MPK, sehingga MRTSLK = MPL / MPK. Hasi perhitungan MRTS adalah negatif, berarti hubungan antara jumlah output dengan input berhubungan secara terbalik atau berslop negatif.
E. Kumpulan Kurva Isokuan
Kurva isokuan dapat bergeser ke kanan atau ke kiri sesuai dengan perubahan jumlah output. Jika ke kiri (mendekati titik origin) berarti nilainya semakin kecil, dan sebaliknya.

F. Return to Scale
Return to scale menjelaskan hubungan antara perubahan input dengan perubahan output yang diakibatkannya. Adam Smith pernah melakukan penelitiannya pada produk peniti. Adam Smith menyimpulkan bahwa jika menggandakan semua input, maka dapat mengakibatkan terjadinya pembagian tugas yang lebih baik (devision of work) sehingga efisien dapat ditingkatkan, oleh karena itu output menjadi berlipat ganda, sebailknya dapat menurunkan efisiensi karena pengawasan terhadap input tersebut menjadi lebih sulit. Jika pertambahan output secara proporsional lebih tinggi dari pertambahan input maka yang terjadi adalah Increasing return to scale. Sebaliknya, jika tambahan output secara proporsional lebih kecil dari pertambahan input yang terjadi adalah decreasing return to scale. Sedangkan jika tambahan output secara proporsional sama dengan tambahan input disebut sebagai constant return to scale.
Contoh lain, misalkan untuk menghasilkan suatu produk menggunakan dua input variabel, yaitu tenaga kerja (L) dan modal (K). Fungsi produksi adalah menggunakan fungsi produksi Cobb Douglas sebagai berikut: Q = 10K.T, Kurva isokuan dapat digambarkan bila diketahui jumlah output (Q), misalnya Q0 adalah sebesar 50 unit, dan Q1 adalah sebesar 100 unit.                          
 
Kurva Isokos
Kurva isokos adalah suatu garis yang menjelaskan gabungan penggunaan input dengan sejumlah biaya tertentu. Persamaan dari kurva isokos adalah sebagai berikut: C = PL.L + PK.K, C = biaya input, PL = upah tenaga kerja, L = jumlah tenaga kerja yang digunakan, PK = harga modal, K = jumlah modal yang digunakan. Untuk mengetahui banyaknya jumlah tenaga kerja yang digunakan adalah sebagai berikut: L = C/PL – OK/PL.K, sedangkan untuk mengetahui besarnya modal yang digunakan dapat dihitung dengan rumus berikut: K = C/PK – PL/PK.L.

G. Keseimbangan Produsen
Keseimbangan produsen dicapai ketika kurva isokos bersinggungan dengan isokuan.
                       
H. Jalur Ekspansi
1. Menurut Dr. Wilson Bangun, S.E., M.SI.
Jika perusahaan mengubah jumlah pengeluarannya, sedangkan harga untuk setiap tenaga kerja dan modal tetap maka kurva isokos bergeser ke arah kanan, sejajar dengan kurva isokos sebelumnya, demikian sebaliknya. Isokos-isokos ini akan bersinggungan dengan isokuan-isokuan yang berbeda sehingga terbentuk titik keseimbangan produsen. Apabila titik-titik keseimbangan produsen ini dihubungkan maka diperoleh suatu garis yang disebut sebagai jalur ekspansi (expansion path). Jalur ekspansi dapat dianalisis dalam dua waktu, yaitu jangka panjang dan jangka pendek.
Jalur ekspansi jangka panjang adalah garis  yang menghubungkan titik-titik keseimbangan produsen apabila semua input variabel berubah
Jalur ekspansi jangka pendek adalah garis yang menghubungkan titik-titik keseimbangan produsen apabila salah satu input berubah (misal teenaga kerja atau modal) sedangkan yang lain tetap. Jalur ekspansi jangka pendek adalah horizontal apabila untuk menghasilkan output tertentu dengan menggunakan input modal tetap, sedangkan input tenaga kerja berubah. Dan sebaliknya untuk jalur ekspansi jangka pendek yang berbentuk vertikal.
2. Menurut Ari Sudarman
Para ahli ekonom membagi kurun waktu produksi menjadi 2 macam:
o    Short run : kurun waktu dimana salah satu factor produksi bersifat tetap. Output dapat diubah dengan cara mengubah faktor produksi variabel. Misalnya, seorang produsen ingin menambah jumlah outputnya dalam jangka pendek, maka ia dapat menambah jam kerja pegawainya namun dengan jumlah peralatan yang tetap.
o    Long run : kurun waktu dimana semua faktor produksi bersifat variabel. Dalam jangka panjang, akan lebih ekonomis jika produsen menambah jumlah peralatan mesin dan tidak perlu menambah jam kerja. Jangka panjang sering disebut cakrawala perencanaan (planning horizon)
BIAYA PRODUKSI
A. Pengertian dan Penggolongan Biaya
1. Menurut Dr. Wilson Bangun, S.E., M.SI.
Rumah tangga konsumen perlu mengetahui biaya karena berkaitan dengan manfaat (benefit). Mereka memperoleh manfaat yang setimpal dengan dengan biaya yang mereka keluarkan. Biaya merupakan pengorbanan untuk memperoleh manfaat yang dapat memberikan kesejahteraan bagi mereka. Perusahaan perlu mengetahui biaya karena berkaitan dengan keberuntungan (profit) yang mereka harapkan. Berbeda dengan tujuan pemerintah, biaya yan dikeluarkan pemerintah adalah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan program yang telah ditetapkan yang bertujuan untuk kesejahteraan masyaraakat secara umum. Secara umum dapat diketahui biaya merupakan seluruh sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan dan memperoleh suatu barang dan jasa. Biaya dapat diklasifikasikan menjadi biaya internal dan biaya eksternal. Biaya internal adalah biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan proses produksi suatu barang atau jasa, misal: biaya yang dikeluarkan untuk membuat kue adalah biaya membeli tepung, telur, gula, tenaga kerja, peralatan-peralatan, dan lain sebagainya. Sedangkan biaya eksternal adalah biaya yang ditanggung oleh masyarakat secara tidak langsung akibat kegiataan proses produksi suatu perusahaan, misal: rusaknya lingkungan akibat polusi udara, limbah pabrik yang dapat merugikan masyarakat setempat.
Biaya internal dapat dibagi menjadi biaya implisit (bersama pengeluaran yang digunakan untuk memperoleh faktor-faktor produksi yang diperlukan perusahaan dalam melakukan kegiatan proses produksinya, contoh: biaya tenaga kerja, biaya membeli bahan mentah, dan lain-lain) dan biaya eksplisit (biaya yang dikeluarkan individu atau perusahaan akibat hilangnya kesempatan untuk memperoleh keuntungan yang seharusnya diterima.
B. Biaya Produksi dalam Jangka Pendek
1. Menurut Dr. Wilson Bangun, S.E., M.SI.
Dalam jangka pendek, untuk menghasilkan barang dan jasa salah satu input yang digunakan tetap sedangkan penggunaan input lain berubah.
Fixed Cost (FC)
Fixed cost adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor-faktor produksi yang sifatnya tetap, misal: membeli tanah, mendirikan bangunan, membeli mesin-mesin, dan lain sebagainya.
Variabel Cost (VC)
Besarnya biaya variabel yang dkeluarkan untuk kegiatan produksi berubah-ubah sesuai dengan perubahan jumlah barang atau jasa yang dihasilkan. Semakin banyak jumlah barang atau jasa yang dihasilkan maka semakin besar biaya variabel yang dikeluarkan, dan sebaliknya.
Total Cost (TC)
Total cost adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan proses produksi, dirumuskan sebagai berikut: TC = FC + VC
Biaya Rata-rata (AC) dan Biaya Marjinal (MC)
Jenis biaya-biaya di atas dapat dihitung secara rata-rata dengan membagi jumlah biaya yang dikeluarkan sesuai dengan jenis biayanya dengan jumlah output yang dihasilkan. AC=TC/Q
Biaya Tetap Rata-rata (AFC)
Merupakan hasil bagi antara jumlah biaya tetap yang dikeluarkan dalam kegiatan produksi dengan jumlah barang dan jasa yang dihasilkan. AFC = FC/Q
Biaya Variabel Rata-rata (AVC)
Merupakan hasil bagi antara jumlah biaya variabel yang dikeluarkan dalam kegiatan prosuksi dengan jumlah barang dan jasa yang dihasilkan. AVC = VC / Q
Biaya Marjinal (MC)
Adalah perubahan (bertambah/berkurang) jumlah biaya yang dikeluarkan akibat perubahan satu unit barang yang dihasilkan. MC = TC / Q atau MC = TC / Q
C. Biaya Produksi Jangka Panjang
1. Menurut Dr. Wilson Bangun, S.E., M.SI.
Dalam jangka panjang, seluruh input dapat berubah untuk menghasilkan barang. Dengan demikian, biaya produksi tidak lagi dibedakan ke dalam biaya tetap dan biaya variabel. Seluruh biaya dapat berubah untuk menghasilkan barang. Skala produksi dapat ditunjukkan oleh kurva biaya rata-rata jangka pendek (short term average cost/STAC).
Apabila perusahaan ingin menghasilkan produk sebanyak Q0 unit, maka perusahaan akan membentuk skala produksi sperti kurva STAC0 dan beroperasi pada titik A dimana biaya rata-rata adalah AC0 dan seterusnya. Dengan demikian, apabila titik A, B dan C dihubungkan maka diperoleh garis yang disebut kurva biaya rata-rata jangka panjang.
Dapat dilihat bahwa biaya rata-rata terendah adalah sebesar AC, yaitu apabila memproduksi sebanyak Q1 unit. Semakin banyak produk yang dihasilkan perusahaan sampai pada titik tertentu seperti kurva STAC1 maka semakin rendah biaya rata-rata. Selanjutnya, tambahan produk yang dihasilkan akan meningkatkan biaya rata-rata, seperti pada kurva STAC2. Skala STAC0 sampai STAC1 adalah kegiatan produksi dalam skala ekonomi (economic scale), sedangkan skala produksi dari STAC1 sampai STAC2 adalah diseconomic scale. Skala ekonomi merupakan cirri LTAC yang menunjukkan perubahan biaya per unit produk dan skala produksi berubah. Kurva LTAC negative adalah economic scale dan kurva LTAC positif adalah diseconomic scale.

0 komentar:

Post a Comment